
EduAsiaNews, Jakarta — Kesuksesan K-Pop menembus pasar global tidak diraih secara instan. Di balik popularitasnya terdapat proses panjang yang ditopang disiplin, kerja keras, kerja sama tim, serta dukungan pemerintah. Pengalaman Korea Selatan tersebut dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam mengembangkan industri budaya populer.
Hal tersebut menjadi salah satu bahasan dalam buku Bagaimana K-Pop Menguasai Dunia? karya Jungkiu Choi, yang akan diluncurkan oleh Palmerah Syndicate di Kinokuniya Bookstore, Grand Indonesia, Jakarta, Minggu (27/9/2026).
Jungkiu, yang memiliki pengalaman lebih dari tiga dekade di industri pertunjukan K-Pop, mengungkap perjalanan industri hiburan Korea Selatan hingga berkembang menjadi fenomena global. Menurut dia, keberhasilan K-Pop tidak hanya bertumpu pada musik dan popularitas para idola, tetapi juga pada sistem industri yang dibangun melalui proses panjang dan terencana.
Disiplin dan kerja keras menjadi bagian penting dalam pembentukan para idola K-Pop. Mereka menjalani pelatihan ketat dan proses kompetitif yang menuntut kemampuan, konsistensi, serta kerja sama tim. Di sisi lain, dukungan pemerintah melalui kebijakan dan berbagai bentuk fasilitasi turut berperan dalam mendorong perkembangan industri budaya Korea Selatan.
Perpaduan antara kualitas sumber daya manusia, kreativitas pelaku industri, dan dukungan kebijakan tersebut memungkinkan produk budaya Korea menjangkau pasar internasional.
Dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Zaini, yang menjadi pembahas buku tersebut, mengatakan bahwa keberhasilan K-Pop merupakan hasil kerja keras dan proses panjang yang berlangsung secara kompetitif.
Menurut Zaini, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan industri budaya populer seperti yang dilakukan Korea Selatan. Namun, peluang tersebut membutuhkan kesiapan untuk menjalani proses panjang sekaligus membangun strategi yang matang.
“Pertanyaannya, apakah kita siap dengan proses panjang itu?” ujarnya.
Zaini menilai produk budaya populer di Indonesia masih kerap dipandang sebatas hiburan untuk mengisi waktu luang. Padahal, industri budaya memiliki potensi ekonomi yang manfaatnya dapat dirasakan tidak hanya oleh para pelaku industri, tetapi juga masyarakat luas. (**)






