
EduAsiaNews, Jakarta – Hujan belum sepenuhnya reda ketika kabar longsor datang ke ponsel Shalsabilla. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) itu mendapati rumah keluarganya di Sumatera tertimbun tanah hingga atap. Tak ada lagi ruang yang bisa dihuni. Di sela upaya keluarga menyelamatkan diri dan barang tersisa, satu pertanyaan menghantui kepalanya: bagaimana nasib kuliahnya?
Shalsabilla bukan satu-satunya. Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara meninggalkan jejak panjang: 1.030 orang meninggal, ribuan luka-luka, ratusan ribu rumah rusak. Dari reruntuhan itu, 31 mahasiswa UPNVJ ikut terdampak langsung.
Akhir November 2025, kampus yang bermarkas di Jakarta Selatan itu bergerak. Melalui proses verifikasi domisili dan tingkat dampak bencana, UPNVJ menyalurkan bantuan uang kuliah tunggal (UKT) senilai Rp 148,9 juta. Bantuan diserahkan di Gedung Rektorat UPNVJ, bukan sekadar angka administratif, melainkan penyangga agar studi para mahasiswa tak ikut hanyut.
Bagi Shalsabilla, bantuan UKT itu menjadi jeda dari kecemasan. Ia bisa kembali memikirkan tugas dan perkuliahan, sementara keluarganya berupaya bangkit dari rumah yang tak lagi layak huni. “Setidaknya kuliah bisa terus jalan,” ujarnya singkat.
Duka yang lebih berat dialami Amla Sarani, mahasiswa Manajemen asal Aceh Tengah. Di tengah banjir dan longsor, seorang anggota keluarganya dinyatakan hilang. Rumah rusak parah, kabar tak kunjung datang. Bantuan UKT dari kampus menjadi sokongan moral—tanda bahwa ia tak sendirian menatap masa depan pendidikan di tengah kehilangan.
Kisah Shalsabilla dan Amla adalah potret kecil dari bencana besar yang melanda 52 kabupaten, melukai sekitar 7.000 orang, membuat 206 lainnya hilang, serta merusak 219 fasilitas kesehatan. Mahasiswa penerima bantuan berasal dari berbagai fakultas: Ekonomi dan Bisnis, Hukum, Ilmu Kesehatan, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, hingga Teknik.
Bagi UPNVJ, program ini melanjutkan peran di luar ruang kelas. Sebelumnya, kampus juga mengirimkan tim relawan ke Aceh. Di tengah lumpur, air bah, dan kehilangan, bantuan UKT itu menjadi penanda sederhana: pendidikan tak boleh berhenti, bahkan ketika bencana datang bertubi-tubi. (www.upnvj.ac.id)





