Minggu, 15 Maret 2026

ITS Kirim Misi Pemulihan ke Lereng Gunung Semeru

By Edu Asia News November 29, 2025
Tim ITS berdialog dengan warga terdampak erupsi Gunung Semeru untuk program pemulihan berkelanjutan . (Foto Humas ITS)

Lumajang — Abu putih yang menempel di dedaunan Kecamatan Pronojiwo belum sepenuhnya hilang ketika rombongan kecil dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tiba, di Lereng Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Rabu pagi, 26 November. Satgas Kemanusiaan ITS bersama Yayasan Manarul Ilmi (YMI) ITS membawa matras, bantal, selimut, tisu—barang-barang sederhana yang menjadi kemewahan bagi 373 pengungsi yang sejak Awan Panas Guguran (APG) Semeru menerjang, kehilangan tempat istirahat yang layak.

Di posko pengungsian SMPN 2 Pronojiwo, Yadin, Koordinator Posko, menghela napas lega. “Ini benar-benar dibutuhkan. Tidur nyaman saja sudah jadi perjuangan di situasi seperti ini,” ujarnya. Di ruangan kelas yang disulap menjadi hunian darurat, bantuan itu langsung dibagikan.

Namun kedatangan tim ITS bukan hanya urusan logistik. Dipimpin oleh Prof Nurul Jadid, para akademisi—yang biasanya berkutat di laboratorium dan ruang kuliah—melangkah ke medan bencana dengan agenda yang lebih panjang: memetakan kerusakan dan menyusun rencana pemulihan yang tak berhenti setelah sorotan kamera reda.

Tim ITS melakukan survei awal untuk membaca kebutuhan paling mendesak serta menaksir skala kerusakan permukiman dan lahan. Menggunakan keahlian teknologi pemetaan, mereka menandai titik-titik rusak yang kelak menjadi dasar rehabilitasi dan rekonstruksi. “Data ini penting. Kita tidak bisa menebak-nebak,” kata salah satu anggota tim.

Langkah cepat berbagai instansi—TAGANA, Kemensos, Dinas Sosial, BPBD, hingga BMKG—dipuji ITS sebagai respon yang efektif dalam fase darurat. Tetapi fase pemulihan, seperti biasa, adalah babak yang sering berjalan senyap dan panjang.

Di sinilah ITS mulai menyiapkan peran lanjutan. Prof Nurul Jadid, Kepala Subdirektorat Pengabdian kepada Masyarakat ITS, menyebut tahap berikutnya adalah pemulihan ekonomi warga. “Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk menghidupkan kembali usaha kecil dan pertanian,” ujarnya. Pelatihan bagi UMKM dan petani tengah disiapkan sebagai jaring pemulihan jangka panjang.

Program KKN Tanggap Bencana pun akan disesuaikan dengan temuan lapangan—mulai dari kebutuhan logistik, peluang pelatihan, hingga pemulihan lahan. Pendekatan ini, kata Jadid, dimaksudkan agar masyarakat tak hanya selamat dari bencana, tetapi juga dapat bangkit secara mandiri.

Kontribusi ITS ini, disadari atau tidak, bergerak sejalur dengan sejumlah target Pembangunan Berkelanjutan: kesehatan warga, pemulihan kawasan terdampak, adaptasi perubahan iklim, hingga kemitraan lintas lembaga. Di tengah kabut debu Semeru, kampus teknik itu berupaya menghubungkan kembali mata rantai kehidupan yang terputus—pelan, teknis, dan terukur, seperti karakter mereka.

By Edu Asia News November 29, 2025
Ads Square