
Bandung — Di sebuah ruang rapat yang dikelilingi panel kaca di CRCS Kampus Ganesha, Rabu siang, 26 November 2025, para ketua Kelompok Keahlian/Keilmuan (KK) berkumpul bersama pimpinan Institut Teknologi Bandung. Suasananya bukan sekadar rapat rutin: forum ini menjadi arena merumuskan ulang peran “dapur intelektual” ITB dalam menyiapkan lompatan menuju universitas kelas dunia.
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., membuka dialog dengan nada tegas. Ia mengingatkan bahwa tantangan global kini bergerak lebih cepat daripada kemampuan adaptasi banyak institusi pendidikan. “Kunci pembangunan jangka panjang bukan lagi kekayaan alam, tetapi kualitas modal insani,” ujarnya. Di hadapan para ketua KK, ia menegaskan bahwa kelompok keilmuan adalah ujung tombak riset, inovasi, dan pengembangan ilmu yang menentukan arah kontribusi ITB bagi bangsa.
Prof. Tata menyebut beberapa sektor yang menuntut terobosan secepat mungkin: teknologi informasi dan komunikasi, rekayasa transportasi dan energi, infrastruktur dan kebencanaan, hingga isu pangan dan kesehatan. “ITB harus berdiri sebagai pemimpin dan pelopor, bukan sekadar pengikut,” katanya.
Dialog ini juga menjadi ruang bagi Rektor untuk mendorong KK bekerja lebih agresif: menghasilkan riset yang relevan, memperkuat inovasi yang aplikatif, serta membangun jejaring lintas disiplin. Targetnya jelas—mendorong karya yang bisa masuk ke industri, menopang kebijakan publik, sekaligus memperluas kolaborasi global.
ITB kini membidik posisi lebih tinggi dalam peta perguruan tinggi dunia. Meski dua belas bidang ilmunya sudah bertengger di peringkat pertama nasional dalam QS World University Rankings by Subject 2025—mulai dari Architecture/Built Environment hingga Engineering–Mineral & Mining—pimpinan ITB menilai capaian itu baru fondasi awal.
Agar lompatan berikutnya lebih terarah, ITB tengah menjalankan sejumlah agenda besar: restrukturisasi program pascasarjana untuk menghasilkan luaran riset lebih kuat, perbaikan mekanisme pendanaan riset, pembangunan ekosistem riset dan inovasi kelas dunia, hingga pengembangan pusat riset unggulan di tingkat Asia. Tak ketinggalan, perluasan kerja sama internasional yang memungkinkan peneliti ITB bekerja dalam jejaring global.
Namun, seluruh rencana ambisius itu berpulang pada kekuatan Kelompok Keahlian/Keilmuan—unit terkecil yang justru memegang peran paling strategis. Mereka menjadi motor pengembangan ilmu, ruang bertumbuhnya kolaborasi, sekaligus laboratorium lahirnya teknologi yang bisa dihilirkan untuk memperkuat daya saing Indonesia.
Di CRCS siang itu, ITB tak hanya berdiskusi soal strategi. Mereka seperti sedang menegaskan kembali sebuah prinsip lama yang kini makin relevan: perguruan tinggi bukan hanya tempat menyiapkan lulusan, tetapi arena mencipta masa depan. Dan masa depan itu, bagi ITB, mulai ditenun di ruang-ruang KK yang kini dituntut bekerja lebih cepat, lebih terarah, dan lebih berdampak. (*)





