
Jakarta — Suasana Gedung Rektorat UPN “Veteran” Jakarta pada Rabu sore, 26 November 2025, terasa berbeda. Lorong-lorongnya dipenuhi foto-foto bersuara lantang: potret kehidupan pinggiran kota, fragmen lingkungan yang tergerus, hingga ekspresi keteguhan manusia menghadapi zaman. Semua tersaji dalam Pameran Fotografi Program Studi Kajian Film, Televisi, dan Media (KFTVM) UPNVJ yang berlangsung dua hari.
Yang menjadikannya istimewa, Rektor UPNVJ, Prof. Dr. Anter Venus, M.A., Comm., turun langsung menyapa para mahasiswa, menatap satu per satu karya, lalu menyerahkan hadiah kepada lima fotografer muda dengan karya paling kuat secara artistik maupun pesan sosial. “Ini bukan sekadar pameran,” ujar Venus, “tetapi ruang mahasiswa untuk menyampaikan apa yang tak sempat diucapkan, sekaligus bagian dari pendidikan bela negara yang kami kembangkan.”
Karya-karya yang tampil bukan sekadar hasil tugas studio. Ada keberanian mahasiswa menembus batas—menyelisik kesenjangan sosial, menyorot persoalan lingkungan, hingga merekam potret kemanusiaan yang kerap luput dari liputan media arus utama.
Dalam bingkai-bingkai itu, mahasiswa KFTVM mempertontonkan kapasitas visual yang matang: komposisi yang rapi, teknik pencahayaan yang eksploratif, dan narasi yang terasa pada sekali pandang. Namun yang lebih mencolok adalah kepekaan sosial mereka—sebuah nilai yang menurut kampus sangat sejalan dengan karakter bela negara yang menjadi identitas UPNVJ.
Pameran tersebut menjadi ajang temu ide antar-generasi mahasiswa. Mereka saling bertukar pendekatan visual, memperdebatkan pilihan artistik, hingga merajut kerja sama dalam proyek-proyek lanjutan. Tak sedikit pengunjung yang menyebut pameran ini sebagai ruang kreatif paling hidup di penghujung tahun akademik.
Bagi KFTVM, kegiatan seperti ini adalah tonggak penting. Ia bukan hanya etalase kemampuan fotografi, tetapi juga latihan membangun jejaring kreatif dan memperkuat solidaritas komunitas visual kampus. Semakin banyak mata yang melihat karya-karya mereka, semakin besar pula peluang kolaborasi di luar kampus.
Dalam sambutannya, Prof. Anter Venus menegaskan bahwa seni visual bukan sekadar ornamen akademik. “Fotografi adalah bahasa. Ia bisa menyampaikan kritik, empati, dan keberpihakan. Mahasiswa harus menyadari itu,” katanya.
Menurutnya, integrasi seni dengan nilai bela negara bukanlah konsep abstrak. Ia tampak nyata ketika mahasiswa memotret persoalan masyarakat dengan empati dan tanggung jawab moral. “Mahasiswa UPNVJ bukan hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga peka, peduli, dan berani bersuara,” tambahnya.
Pameran ini berakhir pada 27 November 2025, namun gema visualnya masih terasa. Potret-potret itu, yang direkam dari sudut pandang generasi muda, menegaskan satu hal: bahwa di tangan mereka, kamera bukan hanya alat teknis—melainkan medium untuk memahami masyarakat dan ikut membentuk masa depan. (*)





