Minggu, 15 Maret 2026

ITB–LPS Scientific Workshop 2025: Panggung 15 Riset Kelas Dunia Bersama MIT

By Edu Asia News November 26, 2025
TB-LPS Scientific Workshop 2025 di Auditorium Campus Center, ITB Kampus Ganesha, Selasa (25/11/2025). Dalam kegiatan tersebut, 15 peneliti dan grup penelitian memaparkan hasil risetnya bersama para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (Foto : Humas ITB)

Bandung — Deretan slide berganti cepat di layar Auditorium Campus Center ITB, Selasa siang (25/11). Satu per satu, lima belas peneliti dan kelompok riset ITB naik ke podium, memaparkan kolaborasi mereka dengan para ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Di tangan mereka, terentang harapan agar riset Indonesia tak lagi berjalan sendiri, melainkan menjejak mantap di peta ilmu pengetahuan global.

Workshop sains ini digelar Direktorat Riset dan Inovasi ITB bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) — lembaga yang dalam beberapa tahun terakhir aktif mendanai Kolaborasi Riset Menuju Indonesia Emas 2045. Melalui skema itu, proyek-proyek riset terpilih mendapat kesempatan bekerja langsung dengan MIT, mulai dari teknologi nanosheet hingga pemodelan risiko multi-bencana.

Direktur Riset dan Inovasi ITB, Prof. Elfahmi, menyebut forum ini sebagai “pintu masuk menuju jaringan riset internasional yang lebih solid.” Sejak lama, kata dia, ITB membangun kolaborasi global—dari NUS, NTU, hingga Tsinghua—dan MIT menjadi simpul penting dalam upaya memperkuat budaya riset kelas dunia. “Bagi ITB dan Indonesia, ini bukan sekadar program. Ini investasi masa depan,” ujarnya.

Dari biosensor tuberkulosis, AI-microscope, studi PM2.5, hingga robotik dan baterai solid-state, spektrum riset yang dipamerkan mencerminkan betapa luasnya kebutuhan ilmiah Indonesia. Tak sedikit yang langsung menyentuh isu strategis negeri ini: manajemen risiko bencana tektonik, pengolahan residu laterit nikel, atau pemodelan megaproject nasional. “Kami berharap output-nya tidak berhenti di publikasi,” kata Elfahmi. “Ia harus menguatkan kapasitas periset, institusi, dan memberi dampak langsung bagi Indonesia.”

Dari pihak LPS, Herman Saheruddin, Plt. Kepala Kantor Persiapan PRP dan Hubungan Lembaga, menegaskan pentingnya riset sebagai fondasi inovasi nasional. “Belasan periset Indonesia yang berkolaborasi dengan MIT ini adalah milestone,” ujarnya. Ia berharap inovasi dari kampus—dari chip AI berbasis transformer hingga katalis nanomaterial—kelak dapat bertemu penggunanya: industri, regulator, hingga lembaga publik.

Selain paparan riset, panggung workshop menghadirkan dua narasumber utama. Prof. Andrivo Rusydi (NUS) membedah cara melakukan riset berdampak dan menembus jurnal papan atas. Menyusul kemudian Prof. Suwarno (ITB) yang memetakan strategi mendapatkan hibah riset kompetitif—ilmu praktis yang sangat dicari para periset muda.

Di balik gelaran sehari itu, ITB dan LPS tampak sedang merajut sebuah misi panjang: membangun ekosistem riset Indonesia yang terhubung dengan magnet institusi global. Bukan sekadar mengirim peneliti ke luar negeri, melainkan membangun gelanggang kerja bersama di mana ide, teknologi, dan metode bisa saling menyilang.

Ketika layar menampilkan daftar 15 topik riset penerima pendanaan, satu hal terasa jelas: ambisi ilmiah Indonesia sedang menanjak. Jika kolaborasi ini berkelanjutan, riset kampus-kampus Indonesia berpeluang melompat dari laboratorium ke industri, dari publikasi ke kebijakan, dari percobaan menjadi inovasi nyata. Langkah penting menuju Indonesia Emas 2045 itu kini tengah ditempa—setahap demi setahap—di ruang-ruang riset Ganesha. (*)

By Edu Asia News November 26, 2025
Ads Square