Minggu, 15 Maret 2026

ITB–Muhammadiyah Rajut Sinergi Baru: Dari Kampus Ganesha ke Jaringan Pendidikan Berkemajuan

By Edu Asia News November 18, 2025
Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara, bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir seusai menandatangani Nota Kesepahaman Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. (Foto : ITB)

Di sebuah aula yang diberi nama tokoh besar gerakan pencerahan, K.H. Ahmad Dahlan, dua institusi dengan jejak panjang dalam dunia ilmu dan kebangsaan bersepakat menjalin langkah strategis. Senin siang, 17 November 2025, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menandatangani Nota Kesepahaman Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kesepakatan ini bukan sekadar seremoni, tetapi ikhtiar untuk menggabungkan dua kekuatan: tradisi sains dan teknologi ITB, serta jaringan pendidikan dan nilai-nilai kemanusiaan Muhammadiyah.

Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara, hadir bersama jajaran pimpinan kampus Ganesha. Dari pihak Muhammadiyah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir memimpin barisan para pimpinan Diktilitbang serta rektor perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dari seluruh Indonesia. Perjumpaan dua arus besar itu terasa bukan sebagai kolaborasi yang baru dirintis, melainkan lanjutan dari persinggungan sejarah panjang dalam memajukan pendidikan nasional.

Di hadapan para peserta, Prof. Tatacipta menyebut kerja sama tersebut sebagai “pertemuan dua gerakan besar: gerakan ilmu pengetahuan dan gerakan pencerahan.” Nada suaranya tegas namun penuh keyakinan bahwa kemitraan ini dapat melahirkan ekosistem pendidikan yang lebih tangguh. Ia memaparkan bahwa ruang kolaborasi kedua institusi akan “sangat luas”, mulai dari pertukaran pengetahuan dosen, penguatan jejaring riset, hingga riset bersama di bidang teknologi, lingkungan, energi terbarukan, kesehatan, dan inovasi sosial.

Bukan hanya laboratorium yang akan sibuk. Program pengabdian masyarakat dijanjikan menjadi arena utama untuk menguji relevansi ilmu. “Pengabdian harus memberi dampak nyata bagi pemberdayaan umat dan melahirkan ekosistem inovasi yang memperkuat daya saing bangsa,” ujar Rektor ITB itu. Di matanya, kolaborasi akademik ITB yang kuat dengan jangkauan luas pendidikan Muhammadiyah berpotensi memproduksi solusi pembangunan yang konkret, terukur, dan berkelanjutan.

Prof. Haedar Nashir, dengan nada apresiatif, memandang kerja sama ini sebagai bentuk saling menguatkan. Baginya, ITB bukan sekadar perguruan tinggi, tetapi institusi dengan “sejarah perjuangan panjang dan tradisi akademik yang kuat.” Ia berulang kali menegaskan bangga dapat bermitra dengan kampus yang telah melahirkan banyak ahli penting bagi modernisasi Indonesia.

Namun Haedar tidak berhenti pada pujian. Ia menyambungkan kerja sama ini ke nilai lebih besar: penguatan tali kebangsaan. Sinergi Muhammadiyah dan ITB, katanya, dapat saling melengkapi—teknologi dan kemanusiaan, inovasi dan pendidikan karakter. “Muhammadiyah siap berkontribusi dalam penguatan akhlak dan pendidikan Islam yang berkemajuan,” ujarnya. Kerja sama ini, lanjutnya, bukan semata agenda institusi, tapi ikhtiar memajukan masyarakat dan menebarkan rahmat lebih luas.

Di akhir acara, penandatanganan nota kesepahaman menjadi simbol awal hubungan strategis jangka panjang. ITB dan PP Muhammadiyah sepakat melangkah dengan komitmen yang sama: membangun ekosistem pendidikan, riset, dan inovasi yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.

Kolaborasi ini mungkin baru dimulai, tetapi kedua pihak tampak sadar bahwa masa depan pendidikan Indonesia menuntut persilangan kekuatan—antara laboratorium sains dan jaring pengabdian masyarakat, antara inovasi dan nilai. Dan hari itu, di Bandung, dua arus besar itu mengikat janji untuk bergerak bersama. (*)

By Edu Asia News November 18, 2025
Ads Square