
EduAsiaNews, Jakarta — Apa yang membuat K-Pop mampu menembus batas negara dan berkembang menjadi fenomena budaya global? Apakah keberhasilannya semata-mata ditopang oleh musik yang menarik dan penampilan para idol, atau terdapat strategi besar di balik kesuksesan tersebut?
Pertanyaan tersebut akan dibahas dalam peluncuran dan diskusi buku Bagaimana K-Pop Menguasai Dunia? karya Jungkiu Choi, profesional asal Korea Selatan yang memiliki pengalaman panjang di industri seni pertunjukan K-Pop.
Diskusi menghadirkan Jungkiu Choi selaku penulis buku dan Zaini, M.A., dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia (UI). Diskusi akan dipandu oleh Zahra Ramdhania Dewi, lulusan Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, FIB UI.
Peluncuran dan diskusi buku tersebut akan berlangsung di Kinokuniya Bookstore, Grand Indonesia West Mall, Ground Floor, Jakarta, pada Minggu, 27 September 2026, pukul 14.00–15.30 WIB.
Buku Bagaimana K-Pop Menguasai Dunia? mengajak pembaca melihat K-Pop dari perspektif yang lebih luas. K-Pop tidak semata-mata dipandang sebagai musik dan hiburan, tetapi juga sebagai industri budaya yang memadukan musik, kreativitas, teknologi, bisnis, komunikasi, pemasaran, serta kekuatan komunitas penggemar.
K-Pop tidak menjadi fenomena global dalam waktu singkat. Di balik gemerlap panggung dan popularitas para idol, terdapat proses panjang yang menuntut disiplin, kerja keras, ketekunan, kreativitas, kemampuan bekerja sama, serta strategi yang dirancang untuk menghadapi pasar global.
Salah satu aspek penting dalam industri K-Pop adalah proses pembentukan para idol. Sebelum tampil di hadapan jutaan penggemar, calon artis menjalani pelatihan untuk mengembangkan kemampuan menyanyi, menari, tampil di depan publik, berkomunikasi, serta bekerja dalam tim.
Kekuatan K-Pop juga terletak pada budaya kerja tim. Sebuah grup tidak berdiri sendiri. Di balik sebuah pertunjukan terdapat banyak pihak, mulai dari pencipta lagu, produser, koreografer, penata busana, fotografer, videografer, manajemen, hingga tim pemasaran dan teknologi.
Perkembangan teknologi digital kemudian turut mempercepat penyebaran K-Pop. Media sosial dan berbagai platform digital memungkinkan musik serta konten K-Pop diakses oleh masyarakat di berbagai negara dengan cepat.
Yang berkembang bukan hanya pasar musik, tetapi juga komunitas global. Para penggemar tidak sekadar menjadi penonton. Mereka turut membuat dan menyebarkan konten, menerjemahkan informasi, mengikuti aktivitas para idol, menghadiri konser, serta membangun komunitas lintas negara.
Dari sinilah K-Pop berkembang menjadi bagian penting dari gelombang budaya Korea atau Hallyu. Ketertarikan terhadap K-Pop kemudian meluas ke berbagai aspek budaya Korea lainnya, seperti bahasa, drama, makanan, fesyen, kosmetik, hingga pariwisata.
Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana sebuah produk budaya dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi sekaligus memperluas pengaruh budaya suatu negara. Namun, buku ini tidak hanya membahas popularitas K-Pop. Ada nilai-nilai yang lebih luas yang dapat dipelajari, antara lain disiplin, ketekunan, kerja sama, kreativitas, inovasi, profesionalisme, serta kemampuan menyusun strategi jangka panjang.
Bagi industri kreatif Indonesia, pengalaman K-Pop menarik untuk dipelajari. Indonesia memiliki talenta kreatif yang besar. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan bakat tersebut melalui sistem yang konsisten, ekosistem industri yang kuat, pemanfaatan teknologi, serta strategi yang mampu membawa produk kreatif Indonesia ke pasar internasional. (**)






